Kesempurnaan Cinta Seorang Wanita (Bagian ke-2)







28/3/2011 | 24 Rabiuts Tsani 1432 H | Hits: 2.770
Oleh: Qana-atul Qanithah 

Dakwatuna.com – Hari Ahad pagi. Lelaki itu sendirian di rumahnya. Istrinya tadi ijin untuk mengisi ta’lim rutin pekanan. Ia pergi dengan membawa kedua putra angkat mereka. Lelaki itu tadi sudah menawarkan untuk mengantarkannya seperti biasa. Tapi istrinya menolak karena mungkin agendanya kali ini cukup lama. Apalagi lelaki itu harus mengisi ta’lim pukul 10 pagi ini, jadi wanita itu tidak mau jika suaminya sampai terlambat datang nanti.
Lelaki itu baru saja selesai dhuha dan memurajaah hafalannya. Masih ada waktu satu jam sebelum ia pergi ke ta’lim yang tempatnya tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Tiba-tiba lintasan mimpinya semalam berkelebat di ruang pikirnya. Ah, kenapa tiba-tiba ia memimpikan perempuan itu lagi? Dan petikan memori tentang sebuah mozaik kelabu dalam perjalanan hidupnya pun membuka dengan terang pagi itu. Dan tanpa sadar ia mulai menapaktilas atsar-atsarnya yang digoreskan sang waktu dalam episode bernama masa lalu.
Tsabita..
Perempuan cinta pertama dan pada pandangan pertama baginya. Mereka dipertemukan dalam kelompok yang sama pada masa OSPEK kampus. Lelaki itu merasa ada yang lain dalam getar jiwanya terhadap perempuan itu dalam tatap pertama. Rasa yang belum pernah ia rasai sebelumnya. Maka sejak tatap itu, lelaki yang senantiasa menjaga pandangannya itu, lebih memilih menghindar darinya. Menyedikitkan interaksi, kecuali benar-benar terpaksa. Agar rasa itu segera beralih rupa. Agar menguap hilang tak menyisakan bekas dalam putihnya jiwa. Tapi dia gagal. Wajah itu telah terlukis sempurna dalam dinding hatinya. Yang ia tak tau, bagaimana bisa?
Sejuta cara telah ia upayakan untuk menghapusnya. Namun sampai ia kelelahan dan putus asa, rasa itu tetap berada di sana. Di palung terdalam samudera hatinya. Maka kemudian dia memilih untuk membiarkannya. Berharap seiring berjalannya hari, rasa itu akan menghapus dirinya sendiri.
Namun tak selamanya ia bisa menghindar. Sepanjang masa 4 tahun perkuliahan, mereka kadang dipertemukan dalam satu kepanitiaan. Lelaki itu sering memilih mengundurkan diri dari kepanitiaan yang nama perempuan itu tertera di sana juga. Namun terkadang, dia tidak bisa menolak amanah yang telah dipercayakan kepadanya oleh ‘dewan pertimbangan agung’ kampusnya. Dan demi kemaslahatan bagi umat yang lebih banyak, dia harus menekan ego dirinya. Berusaha menjadi seorang jundiyah muthi-ah. Sami’na wa athna.
Empat tahun pun berlalu. Ijazah kelulusan sudah ia terima. Dan rasa itu masih mengendap di dalam sukmanya. Bahkan semakin dalam. Sedang dia tidak tau apakah perempuan itu memiliki rasa yang sama padanya. Setelah meminta pertimbangan dari orang-orang yang ia anggap lebih bijaksana, maka ia memberanikan diri menyampaikan maksud kepada perempuan tersebut untuk meminangnya. Melalui perantara tentu saja. Dan tanpa diduga, perempuan itu memberi jawab iya. Perempuan itu ternyata juga mempunyai getar jiwa yang sama terhadapnya. Kebahagiaan melimpahruah dalam dada lelaki itu. Jiwanya terbang, mengepak ringan bersama awan-awan. Dan tiba-tiba saja dunia menjadi begitu hidup dalam pandang matanya. Bergairah. Penuh semangat. Berwarna. Berpendar. Bercahaya. Subhanalloh indahnya..
Maka lelaki itu pun meminta sedikit waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, sebelum dia datang secara resmi kepada orang tua perempuan itu untuk mengkhitbahnya. Dan di masa jeda itu mereka tetap konsisten untuk tidak melakukan interaksi kecuali lewat perantara.
Dua bulan berlalu. Lelaki itu telah siap datang kepada keluarga perempuan. Bahkan tanpa sepengetahuan perempuan itu, dia telah menyiapkan mahar yang akan dia berikan. Cincin, seperangkat alat shalat, satu set kitab tafsir, dan satu set kitab hadist. Kemudian dia mengirimkan pesan kepada perantaranya agar ditanyakan kepada perempuan itu kapan keluarganya siap menerima kedatangannya. Tapi perantara itu tak memberi jawaban.
Sehari. Dua hari. Tiga hari berlalu.
Lelaki itupun merasa ada sesuatu yang aneh dan tidak biasa di sini. Merasa tidak bisa menunggu lebih lama lagi dalam ketidakpastian asa, lelaki itupun menghubungi sang perantara. Namun jawab perantara jauh di luar dugaannya.
“Maaf akhiy shalih, sebaiknya proses ini dicukupkan sampai tahap ini saja. Semoga antum mendapatkan seorang wanita yang jauh lebih baik dari beliaunya. Karena beliau akan segera menggenapkan agamanya.” Telepon ditutup tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Laki-laki itu diam mematung. Tubuhnya membeku. Dia tidak mampu mencerna kata yang baru saja diucap sang perantara. Kata itu begitu asing di telinganya. Seperti diucapkan dengan bahasa negeri antah berantah tak bernama. Sedang dalam mimpikah ia? Salah dengarkah? Atau perantara itu sedang ingin bercanda?
Maka dia hubungi lagi perantaranya. Tidak diangkat. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Biasanya dia akan berhenti pada kali ketiga. Tapi tidak untuk saat ini. Namun dia harus menelan kekecewaan, karena telpon diseberang telah dinon aktifkan. Ia pun bersegera menghubungi perempuan itu. Hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Namun di titik ini, maka kepada siapa lagi dia harus meminta jawaban yang terang atas semua tanya yang menggumpal di jiwa? Tidak ada jawaban juga. Sekali. Dua kali. Dan baru pada kali ketiga, terdengarlah salam lirih dari seberang sana.
“Assalaamu’alaykum..” Suara perempuan itu lirih bergetar
“Wa’alaykumussalaam warohmatulloh.. Ukhtiy, ana mohon penjelasan anti tentang apa yang terjadi. Ana sama sekali tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti..”
“Afwan..” suara itu mulai terisak. Tak ada kata lain lagi. Hanya isakan yang semakin keras terdengar.
“Ukh, untuk saat ini sepertinya kata itu bukan kata yang tepat untuk diucapkan. Ana mohon beri ana penjelasan atas semua keputusan yang sama sekali tidak ana prediksikan..” Lelaki itu mulai terbawa emosi
Tak ada jawaban. Suara tangis yang begitu perih masih terdengar di ruang pendengaran si lelaki.
“Ukh.. ana mohon” Lelaki itu kehabisan kata. Terdiam lama.
Tangis perempuan itu semakin menggugu. Tapi kemudian terdengar juga suaranya. Bergetar. Timbul – tenggelam diantara isakan. “Ana juga mohon, tolong jangan tanya mengapa.. Ana hanya ingin membahagiakan orang tua ana. Ana hanya ingin menunjukkan bakti ana. Dan ana harap antum menerimanya dengan kelapangan jiwa…” Sampai disitu telpon mati. Di saat gugu perempuan itu berada di titik yang tertinggi.
Lelaki itu tidak mencoba menghubungi perempuan itu lagi. Karena marahkah? Sepertinya bukan. Tapi hanya karena ia tidak mau mengalirkan embun jiwa yang lebih banyak dari mata perempuan yang sangat ia kasihi. Hanya itu. Ya, hanya itu.
Akhirnya lelaki itu hanya diam. Tidak tau apa yang dia rasakan sekarang. Marah, kecewa, sedih, merasa dikhianati, iba. Semuanya campur aduk berjejalan dalam jiwanya. Dia merasa menjadi lelaki yang paling dungu di dunia. Selama dua bulan ini dia mati-matian menyiapkan segala sesuatunya agar bisa bersegera menyempurnakan separuh agamanya. Agar bisa bersegera bersanding halal penuh kesakinahan dengan perempuan yang mengisi hatinya saat tidur maupun jaganya. Dan di saat yang sama, perempuan itu justru sedang berproses dan menerima pinangan lelaki lain. Tanpa sepengetahuannya. Tanpa memberitahunya. Sungguh, ia tidak pernah merasai sakit yang sesakit saat itu. Serasa semua syaraf di tubuhnya dicerabut secara paksa. Serasa dirinya dijatuhkan dari langit tempat bintang bergantung hingga ke bumi pada inti terdalamnya. Hancur. Remuk. Lebur. Namun tanpa air mata.
Lelaki itu ingin menangis, tapi tidak bisa. Airmata telah menguap dari kantung matanya. Beralih rupa menjadi mendung yang bergumpal-gumpal, yang kemudian membanjir dan membadai di hatinya. Akhirnya dia hanya mematung. Sejenak dia merasai waktu berhenti berdetak. Menyisakan sepi yang teramat dalam menusuk hingga ke kedalaman jiwanya. Menelan semua rasa sakit yang ada. Kosong. Hampa. Tanpa rasa.
Seminggu kemudian undangan pernikahan berwarna biru langit ia dapatkan. Nama perempuan itu tertera dengan apik dalam balutan tinta putih perak di sana. Disandingkan dengan nama seorang lelaki, yang tentu saja bukan namanya. Khalid Triangga Dewantara. Sosok yang ia kenal. Teman sekampus dan seangkatannya. Allohuakbar!!! Ia bertakbir dalam kehampaan hatinya. Yang ia juga tidak tahu bertakbir untuk dan atas nama apa.
Kemudian ia menghubungi perantaranya lagi. Meminta tolong untuk yang terakhir kali. Dia ingin menyerahkan seluruh mahar yang sudah ia siapkan kepada mempelai laki-laki, sebagaimana yang Salman al-Farisi lakukan terhadap saudaranya Abu Darda’ saat pinangannya dialihpemilikannya. Namun perantara itu tak meloloskan permintaannya. Untuk kondisi sekarang hal itu malah akan mengeruhkan dan menyulitkan pihak perempuan, katanya memberikan pertimbangan. Dan alasan itu dapat ia terima.
Ia pun menawarkan opsi lainnya. Untuk memberikan kepada kedua mempelai sebagai hadiah pernikahan mereka. Perantara menjanjikan untuk mengusahakan, namun keputusan untuk menerima atau menolak tetap berada di tangan kedua orang yang diberi hadiah itu. Lelaki itu menyetujui, dengan memberikan tambahan opsi lagi. Jika mereka tetap menolak, maka tolong dihadiahkan kepada siapa saja yang mau menerimanya. Dia tidak mau barang-barang itu dikembalikan lagi kepadanya. Kesepakatan pun tercapai. Yang baru empat hari kemudian dia mendengar hasilnya. Perempuan itu menerima kitab tafsir dan mengembalikan yang selainnya. Yang sekarang sudah lunas terdistribusi kepada orang-orang yang Alloh kehendaki untuk menerimanya. Alhamdulillah..hati lelaki itu sedikit lega.
Dan akhirnya, kini sampailah juga ia pada hari yang baginya seperti mimpi. Hari di mana perempuan yang dulu sempat sangat ia yakini akan menjadi pendampingnya, menggenapkan agamanya. Diapun telah bersiap untuk melajukan motornya menuju tempat walimah yang cukup jauh perjalanannya. Teman-temannya mati-matian melarangnya untuk hadir. Mereka khawatir. Teramat khawatir. Bukan kekhawatiran lelaki ini akan melakukan hal-hal yang dapat menggagalkan pernikahan. Bukan itu. Tapi mereka khawatir jika lelaki lembut hati ini tiba-tiba menggegana isaknya pada saat ijab qabul dilisankan sehingga akan menjadi tontonan dan fitnah menarik bagi orang-orang yang tidak tahu duduk permasalahannya. Atau yang lebih mengkhawatirkan lagi, jika ia tiba-tiba pingsan. Atau justru malah perempuan itu, karena melihat lelaki ini menghadiri akadnya dalam kedalaman luka jiwanya. Ya, mereka khawatir jika di hari yang seharusnya dipenuhi senyuman itu malah menjadi hari yang paling banyak menumpahkan air mata nantinya.
Tapi semua kekhawatiran itu sempurna tertepiskan. Lelaki itu datang dengan tenang. Walaupun senyumnya masih enggan untuk dinampakkan. Rautnya datar. Tak banyak bicara. Bungkam. Dan saat ijab qabul diucapkan, airmata menetes di wajah tirusnya. Menganak sungai. Tapi tanpa isakan. Dia menengadahkan kedua tangannya yang bergetar dan dengan khusyu’ mengaminkan setiap doa yang ditujukan untuk kedua mempelai. Yah itulah tujuannya datang ke sana. Mendoakan kebaikan untuk mereka berdua. Agar selamat mengarungi bahtera dunia, hingga menjejak ke Surga.
Setelah akad selesai dia menghampiri pengantin, sebagaimana tamu lainnya. Teman-temannya tentu saja mengiring di belakangnya tanpa ia minta. Dia menjabat erat tangan pengantin lelaki sambil menggumamkan doa keberkahan. Tersenyum walaupun agak dipaksakan. Tak berani dia melihat sosok perempuan yang berada di samping lelaki itu. Hanya menangkupkan tangan dan menganggukan sedikit wajahnya, tanpa melihatnya. Pandangannya tertunduk pada lantai berkarpet merah itu. Berpamitan kemudian segera berlalu pergi.
Hujan yang begitu deras mengguyur bumi, membersamai lelaki itu pulang ke rumahnya. Sengaja ia tak bermantel karena dia berharap deras guyuran air hujan itu akan menghapus segala dosa-dosanya, yang jika dosanya itu menimbulkan jelaga di tubuhnya maka pastilah air itu akan menghitam karenanya. Sepanjang perjalanan itu, airmatanya mengalir tak kalah derasnya dengan hujan yang turun. Hingga jarakpandangnya menjadi begitu sempit. Dia menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan segala duka yang selama berminggu lalu hanya menjadi bongkah dalam jiwa.
Berulang surah al-Baqarah ayat 155-157 mendayu dan berkelebat dalam otaknya. Memberikan sensasi ketentraman dan menumbuhkan optimisme untuk melanjutkan kehidupan dengan bara iman yang menaungi jiwa kerdilnya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”
Maka kemudian yang terdengar hanya rintihan doa dari lisan si lelaki yang membisik lirih terbias kalah oleh derasnya guyuran hujan.
“Ya Allah, ridhakanlah hati ini atas semua mimpi yang tak menyata. Ikhlaskanlah atas  harap paruh sayap jiwa yang tak mengepak bersama. Ampuni atas segala dosa yang mewarnai hati yang tak mampu hamba hindari. Dan karuniakanlah nikmat dengan pengganti yang jauh lebih baik, bagi diri terutama bagi dakwah dan agama ini. Engkau yang menganugerahkan cinta, maka hanya Engkau juga yang mampu menghapusnya. Mudahkan langkah kaki ini untuk mengayun mantap di jalan-Mu,, seberapapun beratnya dera yang terjadi pada raga. Karena hamba cinta Kau ya Rabb.. Dengan sebenar-benar cinta.. Dan semoga tak ada dusta yang mengaburkan maknanya..
Ya Ilahi, wahai Dzat yang Maha membolakbalikkan hati dan yang menggenggam jiwa,, tetapkanlah hati ini dan genggamlah jiwa ini senantiasa dalam keimanan, ketha-atan, dan kecintaan kepada-Mu, selalu dan selamanya… Selalu dan selamanya… Selalu dan selamanya..”
Dan rintik hujan pun mengamini senandung doa dari tulusnya jiwa..
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar