Kisah Hajar dan Ismail (1)




Pengantar

Ini adalah kisah yang panjang dan alurnya mengalir jelas. Peristiwanya gamblang, yang menceritakan tentang bapak kita, Ismail bin Khalilullah Ibrahim ‘Alayhi Salam dan tentang ibu kita, Hajar Ummu Ismail. Semua orang Arab adalah keturunan Ismail. Ada yang menyatakan bahwa sebagian orang Arab berasal dari asal-usul Arab kuno yang bukan anak keturunan Ismail. Ibu kita, Hajar, adalah wanita Mesir yang dihadiahkan oleh penguasa dzalim Mesir kepada Sarah dalam sebuah kisah yang akan disebutkan selanjutnya.
Manakala Ibrahim belum kunjung dikaruniai anak dari istrinya, Sarah, maka Sarah memberikan hamba  sahayanya kepada Ibrahim untuk dinikahi dengan harapan bahwa darinya Allah akan memberi anak. Hajar pun hamil dan melahirkan Ismail di bumi yang penuh berkah, Palestina.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menceritakan kisah Hajar kepada kita, apa yang terjadi antara dia  dengan Sarah dan bagaimana Allah memerintahkan Ibrahim agar pindah bersama Hajar dan Ismail ke  belahan bumi termulia (Makkah). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjelaskan kondisi tempat di mana Hajar dan putranya, Ismail, berdiam. Beliau menjelaskan kepada kita tentang Ibrahim yang meninggalkan keduanya di tempat yang sepi, tanpa makanan, minuman dan penduduk. Beliau juga menjelaskan apa yang terjadi dengan Hajar dan Ismail sepeninggal Ibrahim sampai akhirnya Ibrahim dan Ismail membangun Baitullah Al  Haram sebagai rumah pertama yang diletakkan untuk manusia.
Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Said bin Jubair yang berkata bahwa Ibnu Abbas berkata, “Wanita pertama yang membuat ikat pinggang adalah ibu Ismail. Hal itu ia lakukan agar dapat menutupi jejak kakinya dari Sarah. Kemudian Ibrahim membawa istri dan putranya, Ismail, yang masih disusuinya. Hingga akhirnya Ibrahim menempatkan keduanya di dekat Baitullah di sisi sebuah pohon besar di atas sumur Zamzam di bagian atas Masjidil Haram. Pada saat itu Makkah tidak berpenghuni seorang pun, dan tidak ada air. Beliau meninggalkan keduanya, juga meletakkan sebuah kantong berisi kurma dan kantong kulit berisi air. Ketika Ibrahim melangkah pergi, Hajar menyusulnya seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada sesuatu pun?” Hajar terus-menerus menanyakan hal itu, dan Ibrahim tidak  menoleh kepadanya. Maka Hajar bertanya kembali, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar pun berucap, “Kalau memang demikian, Dia tidak akan mengabaikan kami.”  Selanjutnya Hajar kembali.
Ibrahim terus berjalan hingga ketika sampai di sebuah bukit di mana mereka tidak melihatnya, beliau  menghadapkan wajahnya ke Baitullah, lalu berdoa dengan beberapa kalimat seraya mengangkat kedua  tangannya dan mengucapkan, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam- tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rizki kepada mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37)
Hajar menyusui Ismail dan meminum dari air yang berada di dalam kantong kulit. Air sudah habis, ia merasa kehausan, demikian pula putranya yang merengek-rengek kehausan. Ia pun pergi karena tidak tega melihatnya. Hingga ia menemukan Shafa, gunung yang paling dekat dengannya. Maka ia berdiri di atasnya, menghadap ke lembah sambil melihat-lihat adakah seseorang, tetapi dia tidak melihat seorang pun. Setelah turun dari Shafa, ia sampai di lembah, ia mengangkat ujung bajunya dan berusaha keras seperti orang yang berjuang mati-matian, hingga berhasil melewati lembah. Lalu dia mendatangi Marwah, berdiri di atasnya sembari melihat apakah ada seseorang yang dapat dilihatnya, tetapi dia tetap tidak melihat seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali.”
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, “Karena hal inilah orang-orang  melakukan sa’i di antara keduanya (Shafa dan Marwah).”
Ketika mendekati Marwah, ia mendengar sebuah suara. Ia pun berkata kepada dirinya, “Diam. Kemudian ia berusaha mendengar lagi hingga ia pun mendengarnya. Lalu ia berkata, “Engkau telah memperdengarkan. Adakah Engkau dapat menolong?” Tiba-tiba ia mendapatkan Malaikat di tempat sumber air Zamzam. Kemudian Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya – dalam riwayat lain, dengan sayapnya- hingga muncullah air. Ia membendung air dengan tangannya. Ia menciduk dan memasukkan air itu ke kantongnya. Air itu terus  mengalir deras setelah ia menciduknya.”
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada ibu Ismail, jika saja ia membiarkan Zamzam.” Atau beliau bersabda, ”Seandainya ia tidak menciduk airnya, niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”
Lebih lanjut, Ibnu Abbas mengatakan bahwa kemudian ia meminum air itu dan menyusui anaknya. Lalu Malaikat berkata kepadanya, “Janganlah engkau khawatir akan disia-siakan, karena di sini terdapat sebuah rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya  Allah  tidak akan  menelantarkan penduduknya.” Posisi rumah Allah itu terletak lebih tinggi dari permukaan bumi, seperti sebuah anak bukit yang diterpa banjir sehingga mengikis bagian kiri dan kanannya.
Kondisi ibu Ismail terus seperti itu sampai sekelompok Bani Jurhum atau sebuah keluarga dari kalangan Bani Jurhum melewati mereka. Mereka datang melalui jalan Keda’. Kemudian mereka mendiami daerah Makkah yang paling bawah. Mereka melihat seekor burung berputar di angkasa, mereka berkata, “Burung itu pasti sedang mengitari air. Kita mengenal bahwa di lembah ini tidak ada air.” Mereka pun mengutus satu atau dua orang. Ternyata utusan itu menemukan air. Lalu mereka kembali dan memberitahukan perihal air tersebut. Maka mereka  pun datang. Ibnu Abbas  selanjutnya menceritakan, “Ibu Ismail ketika itu masih berada di sumber air tersebut. Maka mereka pun bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau mengizinkan kami untuk singgah di sini?’ ’Ya, tetapi kalian tidak berhak atas air ini,’ jawab ibu Ismail. Mereka pun menyahut, ’Baiklah.’ Kemudian, lanjut Ibnu Abbas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun bersabda, “Maka ibu Ismail menerima hal itu, karena ia memerlukan teman.” Mereka pun singgah di sana dan mengirimkan utusan kepada keluarga mereka agar ikut datang dan menetap di sana bersama mereka. Hingga berdirilah beberapa rumah. Akhirnya sang bayi (Ismail) pun tumbuh besar dan belajar bahasa Arab dari mereka, serta menjadi orang yang paling dihargai dan dikagumi ketika menginjak usia remaja. Setelah dewasa mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka.
Setelah itu ibu Ismail meninggal dunia. Setelah Ismail menikah, Ibrahim datang untuk mencari yang dulu  ditinggalkannya, tetapi ia tidak menemukan Ismail di sana. Lalu Ibrahim menanyakan keberadaan Ismail  kepada istrinya (menantu Ibrahim). Istri Ismail menjawab, “Ia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.”  Kemudian Ibrahim menanyakan perihal kehidupan dan keadaan mereka, maka istrinya menjawab, “Kami berada dalam kondisi yang buruk. Kami hidup dalam kesusahan dan kesulitan.” Ia mengeluh kepada Ibrahim. Ibrahim pun berpesan, “Jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya agar mengubah palang pintunya.” Ketika Ismail datang, seolah-olah ia merasakan sesuatu, kemudian ia bertanya, “Apakah ada orang yang datang mengunjungimu?” “Ya, kami didatangi seorang yang sudah tua, begini dan begitu, lalu ia menanyakan kepada kami mengenai dirimu, dan aku memberitahukannya. Selain itu, ia pun menanyakan ihwal kehidupan kita di sini, maka aku pun menjawab bahwa kita hidup dalam kesulitan dan kesusahan,” jawab istrinya.
“Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?” tanya Ismail. Istrinya menjawab, “Ia menitipkan salam kepadaku untuk aku sampaikan kepadamu dan menyuruhmu agar mengubah palang pintu rumahmu.” Ismail pun berujar, “Ia adalah ayahku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu. Karenanya, kembalilah engkau kepada keluargamu.” Maka Ismail menceraikannya, lalu mengawini wanita lain dari Bani Jurhum.
Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama beberapa waktu. Setelah itu Ibrahim mendatanginya, namun ia tidak juga mendapatinya. Kemudian ia menemui istrinya dan menanyakan perihal keadaan Ismail. Maka istrinya  menjawab, “Ia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” “Bagaimana keadaan dan kehidupan kalian?” tanya Ibrahim. Istri Ismail menjawab, “Kami baik-baik saja dan berkecukupan.” Seraya memuji (bersyukur kepada) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian Ibrahim bertanya, “Apa yang kalian makan?” Istri Ismail menjawab, “Kami memakan daging.” “Apa yang kalian minum?” lanjut Ibrahim. Istri Ismail menjawab, “Air.” Kemudian Ibrahim berdoa, “Ya Allah, berkatilah mereka pada daging dan air.”
 Selanjutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Pada saat itu mereka belum mempunyai makanan berupa biji-bijian. Seandainya mereka memilikinya, niscaya Ibrahim akan mendoakannya supaya mereka diberikan berkah pada biji-bijian itu.” Lebih lanjut Ibnu Abbas berkata, “di luar Makkah, kedua jenis itu (daging dan air) bisa didapatkan dengan mudah, hanya saja keduanya tidak cocok (sebagai makanan pokok).” Ibrahim berpesan, “Jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan suruh ia untuk memperkokoh palang pintunya.” Ketika datang, Ismail bertanya, “Apakah ada orang yang datang mengunjungimu?” Istrinya menjawab, “Ya, ada orang tua yang berpenampilan sangat bagus – seraya memuji Ibrahim- dan ia menanyakan kepadaku perihal dirimu, lalu kuberitahukan. Setelah itu ia  menanyakan perihal kehidupan kita, maka aku menjawab bahwa kita baik-baik saja.”
“Apakah ia berpesan sesuatu hal kepadamu?” tanya Ismail. Istrinya menjawab, “Ya, ia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhmu agar memperkokoh palang pintumu.” Lalu Ismail berkata, “Ia adalah ayahku. Engkaulah palang pintu yang dimaksud. Ia menyuruhku untuk tetap hidup rukun bersamamu.”
Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka selama beberapa waktu. Setelah itu ia datang kembali, ketika  itu Ismail tengah meraut anak panah di bawah pohon besar dekat sumur Zamzam. Ketika melihatnya, Ismail bangkit. Keduanya melakukan apa yang biasa dilakukan oleh anak dengan ayahnya dan ayah dengan anaknya jika bertemu. Ibrahim berkata, “Wahai Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepadaku.” “Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Tuhanmu itu,” sahut Ismail. Ibrahim pun bertanya, “Apakah engkau akan membantuku?” “Aku pasti akan membantumu,” jawab Ismail.  Ibrahim  bertutur,  Sesungguhnya  Allah menyuruhku untuk membangun sebuah rumah di sini.” Seraya menunjuk ke anak bukit kecil yang letaknya lebih tinggi dari sekelilingnya.
Ibnu Abbas pun melanjutkan ceritanya bahwa pada saat itulah keduanya meninggikan pondasi Baitullah. Ismail mengangkat batu, sedang Ibrahim memasangnya. Ketika bangunan itu sudah tinggi, dia meletakkan sebongkah batu untuk dijadikan pijakannya. Ibrahim berdiri di atasnya sambil memasang batu, sementara Ismail menyodorkan batu-batu kepadanya. Keduanya pun berdoa, “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 127)
Ibnu Abbas meneruskan, bahwa keduanya terus membangun hingga menyelesaikan seluruh bangunan Baitullah. Keduanya berdoa, “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al  Baqarah: 127)
Dalam riwayat lain dalam Shahih dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata, “Ketika terjadi apa yang terjadi antara Ibrahim dan keluarganya, Ibrahim membawa pergi Ismail dan ibunya dan mereka membawa kantong air. Ibu Ismail minum air dari kantong itu dan menyusui anaknya, sampai Ibrahim tiba di Makkah. Lalu Ibrahim meletakkannya di bawah rindang pohon besar. Ibrahim pun meninggalkannya untuk pulang kepada keluarganya. Ibu Ismail menguntitnya. Sesampainya di Keda’, ibu Ismail memanggilnya, “Wahai Ibrahim, kepada siapa kamu meninggalkan kami?” Ibrahim menjawab, “KepadaAllah.” Ibu Ismail menjawab, “Aku rela dengan Allah.”
Ibnu Abbas meneruskan, “Lalu ibu Ismail kembali, meminum air itu dan menyusui anaknya. Manakala air telah habis, dia berkata, ‘Sebaiknya aku pergi memeriksa sekeliling, mungkin ada orang lain di sekitar sini.” Lalu ibu Ismail pergi. Dia naik ke bukit Shafa. Dia melihat- lihat apakah ada seseorang. Tetapi tak seorang pun yang dilihatnya. (Lalu dia turun) ketika sampai di lembah, dia berlari-lari kecil. Dia mendatangi Marwah. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali putaran. Kemudian ibu Ismail berkata, ’Sebaiknya aku kembali menengok anakku, apa yang dilakukannya?’ Ibu Ismail pulang menengok putranya, ternyata putranya masih dalam keadaan seperti semula. Dia mengerang-erang hampir mati kehausan, maka ibu Ismail tidak tenang karenanya. Ibu Ismail berkata, ’Sebaiknya aku pergi melihat-lihat mungkin ada seseorang.’ Lalu dia pergi dan naik ke bukit Shafa, dia melihat dan melihat, tetapi tidak seorang pun yang dilihatnya sampai dia menggenapkan menjadi tujuh kali (putaran). Kemudian ibu Ismail berkata, ’Sebaiknya aku kembali untuk melihat apa yang terjadi dengan anakku.’ Ternyata dia mendengar suara, dia berkata, ’Bantulah aku jika kamu membawa kebaikan.’ Ternyata dia adalah Jibril. Ibnu Abbas berkata, “Lalu Jibril mengisyaratkan dengan tumitnya begini. Dia menjejak bumi dengan tumitnya. Maka air memancar. Ibu Ismail terkagum-kagum, lalu dia menciduki air itu.”
Ibnu Abbas berkata bahwa Abul Qasim berkata, “Seandainya dia membiarkannya, niscaya air itu akan mengalir.” Ibnu Abbas meneruskan, “Lalu ibu Ismail minum air itu dan menyusui anaknya.”
Lanjut Ibnu Abbas, “Lalu sekelompok orang dari Jurhum melewati dasar lembah. Mereka melihat burung. Mereka terheran-heran seraya berkata, ‘Burung itu pasti terbang di atas air.’ Mereka pun mengutus seorang utusan. Utusan itu melihat dan ternyata ada air. Lalu dia kembali dan menyampaikan hal itu kepada mereka. Maka mereka mendatanginya. Mereka bertanya, “Wahai Ibu Ismail, apakah engkau berkenan jika kami menyertaimu atau tinggal bersamamu?” Ismail beranjak dewasa dan menikah dengan seorang wanita dari mereka.
Ibnu Abbas meneruskan, “Ibrahim ingin berkunjung. Dia berkata kepada keluarganya, ‘Aku akan menengok anakku.’ Ibrahim datang, dia memberi salam dan berkata, ’Di mana Ismail?’ Istrinya menjawab, ’Pergi berburu.’ Ibrahim berkata, ’Jika dia pulang katakan kepadanya agar mengubah palang pintunya.’ Ketika Ismail datang, istrinya menyampaikan perihal kejadian yang baru dialaminya. Lalu Ismail berkata, “Kamulah orang yang dimaksud. Pulanglah kamu kepada keluargamu.”
Kemudian Ibrahim ingin berkunjung lagi. Dia berkata kepada keluarganya, ’Aku akan menengok anakku.’ Ibrahim pun datang dan bertanya, ’Di mana Ismail?’ Istrinya  menjawab,  ’Pergi  berburu.’  Istrinya melanjutkan, ’Singgahlah untuk makan dan minum.’ Ibrahim bertanya, ’Apakah makanan dan minuman kalian?’ Istri Ismail menjawab, ’Makanan kami adalah daging dan minuman kami adalah air.’ Ibrahim berkata, ’Ya Allah, berkahilah mereka pada makanan dan minuman mereka.’ Ibnu Abbas berkata bahwa Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Keberkahan dengan doa Ibrahim ‘Alayhi Salam.”
Ibnu Abbas melanjutkan, “Kemudian Ibrahim ingin berkunjung lagi. Dia berkata kepada keluarganya, ‘Aku hendak menengok anakku.’ Ibrahim datang pada saat Ismail sedang meraut anak panah di belakang Zamzam. Ibrahim berkata, ’Wahai Ismail, sesungguhnya Tuhanmu memerintahkan kepadaku agar aku membangun rumah untuk-Nya.’ Ismail menjawab, ’Taatilah perintah Tuhanmu.’ Ibrahim berkata, ’Dia telah memerintahkanku agar kamu membantuku.’ Ismail menjawab, ’Kalau begitu akan aku lakukan.’ Atau sebagaimana yang dia katakan.
Ibnu Abbas berkata, “Lalu keduanya berdiri. Ibrahim membangun sementara Ismail menyodorkan batu kepadanya, dan keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al  Baqarah: 127)

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya di dalam Kitabul Anbiya’, bab ‘Dan Allah mengangkat Ibrahim’ (QS An Nisa: 125), 6/396, no. 3364. Hafizh Ibnu Hajar telah menjelaskan jalan-jalan periwayatannya dan imam-imam yang meriwayatkannya dalam Fathul Bari, 6/399.
Ucapan Ibnu Abbas di dalam hadits ini menunjukkan bahwa dia mengangkatnya (menisbatkannya) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Kalaupun Ibnu Abbas tidak mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam secara langsung, itu berarti dia mendengar dari sahabat lain. Maka hadits ini termasuk mursal sahabi (hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang tidak dia saksikan atau dengar sendiri dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam). Para ulama telah sepakat bahwa mursal sahabi tetap sah bila dijadikan sebagai dalil.

sumber:www.hasanalbanna.com




Kisah Kematian Nabiyullah Adam ‘Alaihis Salam





Pengantar

Kisah ini memberitakan kepada kita tentang saat-saat terakhir kehidupan bapak kita Adam dan keadaannya pada  saat  sakaratul  maut.  Para  Malaikat  memandikannya,  memberinya  wangi-wangian, mengkafaninya, menggali kuburnya, menshalatkannya, menguburkannya dan menimbunnya dengan tanah. Mereka melakukan itu untuk memberikan pengajaran kepada anak cucu sesudahnya, tentang bagaimana cara menangani orang mati.

Nash Hadits

Dari Uttiy bin Dhamurah As Sa’di berkata, “Aku melihat seorang Syaikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku bertanya tentangnya.” Mereka menjawab, “Itu adalah Ubay bin Kaab.” Ubay berkata, “Ketika maut datang menjemput Adam, dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah Surga.” Lalu anak-anaknya pergi mencari untuknya. Mereka disambut oleh para Malaikat yang telah membawa kafan Adam dan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul. Para Malaikat bertanya, “Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?” Mereka menjawab, “Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari Surga.” Para Malaikat menjawab, “Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba.”
Lalu para Malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, maka dia berlindung kepada Adam. Adam berkata kepada Hawa, “Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan Malaikat Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala.” Lalu para Malaikat  mencabut  nyawanya,  memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya, menshalatinya. Mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di dalamnya, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur, mereka menimbunnya dengan batu. Lalu mereka berkata, “Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian.” 

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawaidul Musnad, 5/136.
Ibnu Katsir setelah menyebutkan hadits ini berkata, “Sanadnya shahih kepadanya.” (Yakni kepada Ubay bin Kaab). Al-Bidayah wan Nihayah, 1/98.
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad. Rawi-rawinya adalah rawi-rawi hadits shahih, kecuali Uttiy bin Dhamurah. Dia adalah rawi tsiqah.” Majmauz Zawaid, 8/199.
Hadits ini walaupun mauquf (sanadnya tidak sampai pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam) pada Ubay bin Kaab, tetapi mempunyai kekuatan hadits marfu’, karena perkara seperti ini tidak membuka peluang bagi akal untuk mengakalinya.

Penjelasan Hadits

Hadits ini menceritakan berita bapak kita, Adam manakala maut datang menjemputnya. Adam rindu buah Surga. Ini menunjukkan betapa cinta Adam kepada Surga dan kerinduannya untuk kembali kepadanya. Bagaimana dia tidak rindu Surga, sementara dia pernah tinggal di dalamnya, merasakan kenikmatan dan keenakannya untuk beberapa saat.
Bisa jadi keinginan Adam untuk makan buah Surga merupakan tanda dekatnya ajal. Sebagian hadits menyatakan bahwa Adam mengetahui hitungan tahun- tahun umurnya. Dia menghitung umurnya yang telah berlalu. Nampaknya dia mengetahui bahwa tahun-tahun umurnya telah habis. Perpindahannya ke alam Akhirat telah dekat. Dan tanpa ragu, Adam mengetahui bahwa anak-anaknya tidak mungkin memenuhi permintaannya. Mana mungkin mereka bisa menembus Surga lalu memetik buahnya. Anak-anak Adam juga menyadari hal itu. Akan tetapi, karena rasa bakti mereka kepada bapak mereka, hal itulah yang mendorong mereka untuk berangkat mencari.
Belum jauh anak-anak Adam meninggalkan bapaknya, mereka telah dihadang oleh beberapa Malaikat yang menjelma dalam wujud orang laki-laki. Mereka telah membawa perlengkapan untuk menyiapkan orang mati. Para Malaikat memperagakan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah seperti pada hari ini. Mereka membawa kafan, wewangian, juga membawa kapak, cangkul, dan sekop yang lazim diperlukan untuk menggali kubur.
Ketika anak-anak Adam menyampaikan tujuan mereka dan apa yang mereka cari, para Malaikat meminta mereka untuk pulang kepada bapak mereka, karena bapak mereka telah habis umurnya dan ditetapkan ajalnya. Manakala para Malaikat maut datang kepada Adam, Hawa mengenalinya sehingga dia berlindung kepada Adam. Sepertinya Hawa hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para Rasul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan (antara kehidupan dunia dan Akhirat .pen) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada kita. Adam tidak menggubris dan menghardiknya dengan berkata, “Menjauhlah dariku, karena aku pernah melakukan dosa karenamu.” Adam mengisyaratkan rayuan Hawa untuk makan pohon yang dilarang semasa keduanya berada di Surga.
 Para Malaikat mengambil ruh Adam. Mereka sendirilah yang mengurusi jenazahnya dan menguburkannya, sementara anak-anak Adam melihat mereka. Para Malaikat itu  memandikannya,  mengkafaninya,  memberinya  wangi-wangian,  menggali  kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalamnya, lalu mereka menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar dari kubur dan menimbunkan tanah kepadanya. Para Malaikatmengajarkan semua itu kepada anak-anak Adam. Mereka berkata, “Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian.” Yakni, cara yang Allah pilih untuk kalian dalam hal mengurusi mayat kalian.
Cara ini adalah syariat umum yang berlaku untuk seluruh Rasul dan semua orang beriman di bumi ini, mulai sejak saat itu sampai sekarang. Dan cara apa pun yang menyelisihinya berarti menyimpang dari petunjuk Allah, yang  besar  kecilnya  tergantung  pada  kadar  penyimpangannya. Barang siapa melihat tuntunan kaum muslimin dalam urusan jenazah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka dia pasti melihat kesamaan antara hal itu dengan perlakuan para Malaikat kepada Adam. Sepanjang sejarah, petunjuk ini telah banyak diselisihi oleh sebagian besar umat manusia. Ada yang membakar orang mati. Ada yang membangun bangunan-bangunan megah, seperti piramid, untuk mengubur orang mati dengan meletakkan makanan, minuman, mutiara dan perhiasan bersamanya. Ada yang meletakkan mayit di kotak batu atau kayu. Semua itu menuntut biaya yang mahal dan hanya membuang-buang energi untuk sesuatu yang tidak berguna. Dan yang paling utama, semua itu telah menyelisihi petunjuk yang Allah syariatkan kepada mayit Bani Adam.

Pelajaran-pelajaran dan Faidah-faidah Hadits
  1. Disyariatkan menyiapkan mayit dan menguburkannya seperti disebutkan di dalam hadits.
  2. Sunnah terhadap mayit adalah petunjuk semua Rasul dalam setiap syariat mereka.
  3. Pengajaran Malaikat kepada anak-anak Adam tentang sunnah ini dengan ucapan dan perbuatan.
  4. Semua cara menangani mayit selain cara yang disebutkan di dalam hadits di atas adalah penyimpangan dari manhaj dan petunjuk Allah.
  5. Keutamaan bapak kita Adam, di mana para Malaikat mengurusi  jenazahnya,  menshalatkannya  dan menguburkannya.
  6. Kemampuan para Malaikat untuk menjelma menjadi manusia dan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia.
  7. Sudah munculnya beberapa peralatann sejak zaman manusia pertama, seperti kapak, cangkul dan sekop.
  8. Seseorang harus berhati-hati terhadap istrinya yang bisa menjadi penyebab penyimpangannya. Adam memakan buah karena hasutan Hawa. Dan Allah telah meminta kita agar berhati-hati terhadap sebagian istri dan anak-anak kita, “Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka.” (QS. Ath Thaghabun: 14)

sumber: www.hasanalbanna.com



Nabiyullah Shalih ‘Alaihi Salam




Pengantar

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melewati bekas kampung-kampung Tsamud yang dibinasakan oleh Allah ketika mereka menyembelih unta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan para sahabat berdiri di sumur yang dahulu didatangi oleh unta tersebut. Dan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyampaikan kepada mereka berita tentang tempat itu. Beliau mengetahuinya dengan pasti. Dari sanalah unta itu datang dan ia pun kembali dari jalan itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memperingatkan mereka agar tidak berlaku seperti perilaku kaum Nabi Shalih. Mereka meminta ayat (mukjizat), lalu Allah mengeluarkan kepada mereka mukjizat besar, yaitu unta. Mereka mendustakan dan menyembelihnya, maka Allah membinasakan mereka dan menurunkan adzab dan balasan-Nya.

Nash Hadits

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Jabir. Ia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melewati Hijr, beliau bersabda, ‘Janganlah kalian meminta datangnya ayat-ayat (mukjizat). Kaum Shalih telah memintanya, maka ia (unta) datang dari jalan ini dan pergi dari jalan ini. Lalu mereka melanggar perkara Tuhan mereka dan menyembelihnya. Unta itu minum air mereka satu hari dan mereka minum air susunya satu hari, lalu mereka menyembelihnya. Maka mereka ditimpa oleh suara yang keras. Allah membinasakan semua yang ada di kolong langit dari mereka, kecuali satu orang yang berada di Haram’.”  Mereka bertanya, “Siapa dia, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dia adalah Abu Righal. Ketika dia keluar dari Haram, dia tertimpa seperti yang menimpa kaumnya.”

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 3/296. Ibnu Katsir setelah menyebutkannya berkata, “Hadits ini di atas syarat Muslim, dan ia tidak tertulis di salah satu dari enam kitab (Kutubus Sttah).” Al-Bidayah wan Nihayah, 1/137.
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Bazzar dan Thabrani dalam Ausath. Lafazhnya ada di dalam surat Hud. Dan Ahmad meriwayatkan hadits senada. Rawi-rawi Ahmad adalah rawi-rawi hadits shahih.” Majmauz Zawaid, 6/194.

Penjelasan Hadits

Allah Tabaraka wa Ta’ala menceritakan kepada kita kisah Nabiyullah Shalih ‘alaihi salam dengan kaumnya, Tsamud. Kisah ini berisi peristiwa dan kejadian yang jelas lagi terperinci. Kisah ini tidak disinggung di Taurat, dan ahli kitab tidak mengetahui berita tentang Tsamud (kaum Nabi Shalih) dan ‘Ad (kaum Nabi Hud). Padahal Al- Qur’an menyampaikan kepada kita bahwa Musa menyebutkan dua umat ini kepada kaumnya “Dan Musa berkata, ‘Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang Rasul-Rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata, lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian) dan berkata, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya’.” (QS. Ibrahim: 8-9)
Seorang mukmin dari keluarga Fir’aun berkata, “Dan orang yang beriman itu berkata, ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud.” (QS. Ghafir: 30-31)
Buku-buku sunnah memberitakan kepada kita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melewati kampung Tsamud yang bernama Hijr pada perjalanannya menuju perang Tabuk. Beliau singgah bersama para sahabat di perkampungan mereka. Para sahabat mengambil air dari sumur-sumur di mana Tsamud mengambil air darinya. Dengan air itu mereka membuat adonan roti, sementara bejana telah disiapkan di atas api. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkan agar bejananya ditumpahkan dan adonannya diberikan kepada unta. Kemudian beliau meneruskan perjalanan sampai di sumur di mana unta Shalih minum darinya. Dan beliau melarang para sahabat untuk masuk ke daerah suatu kaum yang diadzab kecuali dalam keadaan menangis. Beliau pun menjelaskan alasannya, “Aku khawatir kalian akan tertimpa oleh apa yang menimpa mereka.”[1]
Apabila manusia berada di suatu tempat di mana telah terjadi peristiwa besar, baik pada masa itu atau sebelumnya, maka perhatian mereka tertuju kepada peristiwa tersebut. Apabila ia seorang dai kepada Allah, maka dia bisa memanfaatkan peluang untuk mengingatkan manusia dengan apa yang telah menimpa orang-orang terdahulu, memperingatkan mereka agar tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan dan tidak berjalan di atas jalan mereka. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa Salam. Beliau menyampaikan kepada mereka tentang apa yang telah Allah sampaikan kepadanya. Beliau menunjukkan jalan di mana unta Shalih datang darinya menuju sumur, dan jalan di mana darinya unta itu meninggalkan sumur. Nabi juga memberitahu mereka bahwa unta Shalih berbagi air dengan kaum Shalih pada hari di mana ia mendatangi sumur dan minum darinya. Pada hari berikutnya ia tidak minum apa pun. “Ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air dan kamu mendapatkan giliran pula untuk mendapatkan air pada hari tertentu.” (QS. Asy-Syuara: 155). “Dan berikan kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka dengan unta betina itu, tiap-tiap giliran minum dihadiri oleh yang punya hak giliran.” (Al Qamar: 28).
Di antara keunikan unta Shalih yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah, bahwa kaum Shalih memerah susunya dalam kadar sekehendak mereka. Maka air yang diminum oleh unta pada hari gilirannya tergantikan oleh susunya yang melimpah, dan mereka mendapatkannya tanpa lelah dan capek. Walaupun Tsamud telah mengambil keuntungan besar dari unta Shalih, tetapi mereka tetap merasa sempit dan membenci keberadaannya di antara mereka. Maka mereka menyembelihnya.
Al Quran telah menyatakan bahwa pembunuh unta ini adalah orang tercelaka di kalangan Tsamud, “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasulullah berkata kepada mereka, ‘Biarkanlah unta betina  Allah dan minumannya’. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelihnya.” (QS. Asy-Syams: 12-14). Rasulullah telah menjelaskan kepada kita tentang pembunuh unta itu di dalam salah satu hadits, bahwa dia adalah laki-laki merah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah bersabda kepada Ali dan Ammar, “Maukah kalian berdua aku beritahu siapa orang yang paling celaka dari dua orang laki-laki?” Kami menjawab, “Ya, ya Rasulullah.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Seorang laki-laki berkulit merah di kalangan Tsamud pembunuh unta dan orang yang memukulmu, ya Ali, di sini (ubun-ubunnya) hingga basah oleh darah – yakni jenggotnya.”[2]
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyatakan bahwa dia adalah pembesar kaumnya. Di dalam Shahihain, ‘Ketika bangkit orang yang paling celaka’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Bangkitlah seorang laki-laki yang kotor, busuk, perusak, mulia di antara kaumnya seperti Abu Zam’ah.”[3]
Manakala mereka menyembelihnya, Shalih, Nabi mereka, menjanjikan siksa setelah tiga hari. Dia berkata kepada mereka, “Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shalih, ‘Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak didustakan.” (QS. Huud: 65)
Pada hari ketiga datangnya adzab berupa suara yang menggelegar. “Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan kaum Tsamud.” (Al Fushshilat: 13). “Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu. Maka mereka disambar petir, adzab yang menghinakan lantaran apa yang telah mereka kerjakan.” (Fushshilat: 17)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  Salam telah memberitahukan kepada kita bahwa suara menggelegar itu telah membinasakan semua yang ada di bumi dari kabilah itu, tanpa ada beda antara yang tinggal di daerahnya atau sedang bepergian ke daerah lain yang jauh. Tidak ada yang selamat kecuali seorang laki-laki dari kalangan mereka yang pada waktu itu sedang berada di Haram. Haram melindunginya dari adzab. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah menyebutkan namanya, orang itu dipanggil dengan nama Abu Righal. Akan tetapi, dia pun tertimpa apa yang menimpa kaumnya begitu dia keluar dari Haram.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memperingatkan para sahabat agar tidak meminta datangnya ayat-ayat (mukjizat) seperti kaumnya Nabi Shalih, karena ditakutkan mereka akan mendustakannya lalu mereka binasa seperti kaum Shalih.

Pelajaran-Pelajaran dan Faidah-faidah Hadits
  1. Peringatan terhadap sikap memohon ayat-ayat (mukjizat). Orang-orang terdahulu telah memohon kepada Rasul-Rasul mereka. Permohonan mereka dikabulkan, tetapi mereka mendustakannya. Mereka dibinasakan karenanya.
  2. Berhati-hatilah terhadap adzab, murka dan siksa Allah lantaran telah mendustakan Rasul-Rasul dan kitab-kitab-Nya.
  3. Unta betina pemberian Allah kepada Nabi Shalih adalah ayat yang besar. Bentuk tubuhnya besar. Penampilannya mengundang decak kagum. Ia memiliki ciri-ciri istimewa yang tidak dimiliki oleh unta selainnya.
  4. Anjuran berhenti sesaat di tempat-tempat yang pernah terjadi peristiwa-peristiwa besar, agar bisa mengambil pelajaran dan nasihat, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berhenti di sebuah sumur di perkampungan Tsamud. Allah telah memerintahkan di dalam kitab-Nya agar berjalan di muka bumi dan merenungkan akhir perjalanan orang- orang terdahulu dengan mengambil pelajaran dan peringatan dari mereka. “Katakanlah, ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu’.” (Al An’am: 11). “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (Rasul-Rasul).” (QS. Ali Imran: 137)
  5. Detailnya ilmu Nabi. Beliau menunjukkan jalan yang dilalui oleh unta itu untuk mendatangi sumur dan jalan yang dilalui ketika meninggalkannya. Hal ini bukan sesuatu yang aneh, karena dia diberitahu oleh Dzat yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
  6. Haram melindungi orang yang berlindung dengannya, melindungi Abu Righal dari adzab Allah. Manakala dia keluar darinya, dia pun tertimpa adzab seperti kaumnya.
  7. Lindungan Haram kepada Abu Righal menunjukkan bahwa hal ini telah ada sebelum Ibrahim. Nabiyullah Shalih dan kaumnya, Tsamud, adalah kaum sebelum Ibrahim ‘alaihi salam. Shalih berasal dari bangsa Arab keturunan Nuh ‘alaihi salam. Haramnya Makkah sebelum Ibrahim didukung oleh ucapan Ibrahim, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati.” (QS. Ibrahim: 37)

[1] Silakan merujuk hadits-hadits dalam tema ini di Shahih Bukhari 6/378 no. 3378-3381. Shahih Muslim 4/2286 no. 2981.
[2] Diriwayatkan oleh Ahmad di Musnadnya 4/263.
[3] Shahih Bukhari 6/378, no. 3377. Lihat ujung-ujungnya di 4942, 5204, 6042. Muslim 4/2191 no. 2855


sumber: www.hasanalbanna.com


Kisah Ibrahim dan Sarah dengan Raja Yang Lalim





Pengantar

Kisah ini menjelaskan bagaimana Allah menjaga Sarah, istri Ibrahim, ketika seorang thaghut (musuh Allah) hendak  menodai  kesuciannya  dan  merampas kehormatannya. Ibrahim berlindung kepada Allah, berdoa dan shalat kepada-Nya, dan Sarah berdoa memohon perlindungan Allah. Maka Allah menjadikan si fajir (pelaku maksiat) tidak berdaya dan menggagalkan makarnya (berupa siksaan) di lehernya. Allah menjaga Ibrahim dan istrinya, dan Allah mampu untuk menjaga wali-wali-Nya dan membelenggu musuh-musuh-Nya di setiap waktu dan generasi.

Nash Hadits 

Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah yang berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Ibrahim berhijrah bersama Sarah. Keduanya masuk ke sebuah desa yang terdapat seorang raja atau seorang yang sombong. Dikatakan kepadanya, ‘Ibrahim datang bersama seorang wanita yang sangat cantik.’ Maka dia bertanya kepada Ibrahim, ’Wahai Ibrahim, siapa wanita yang bersamamu?’ Ibrahim menjawab, ’Saudara perempuanku.’ Kemudian Ibrahim kembali kepada Sarah dan berkata, ’Jangan mendustakan ucapanku aku telah mengatakan kepada mereka kalau kamu adalah saudaraku. Demi Allah, di bumi ini tidak ada orang yang beriman selain diriku dan dirimu.’ Maka Ibrahim mengirim Sarah kepadanya. Dia bangkit kepada Sarah. Sarah bangkit berwudhu dan shalat. Sarah berkata, ’Ya Allah, jika aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, dan menjaga kehormatanku kecuali kepada suamiku, maka janganlah Engkau membiarkan orang kafir menguasaiku.’ Maka nafas raja sombong itu menyempit dan dia hampir tercekik sampai dia memukulkan kakinya ke bumi.”
Al A’raj berkata bahwa Abu Salamah bin Abdur Rahman berkata di mana Abu Hurairah berkata tentang Sarah yang berkata, ’Ya Allah, jika orang ini mati, maka mereka menuduhku membunuhnya.’ Maka dia terbebas, kemudian dia bangkit lagi kepada Sarah. Sarah berwudhu dan shalat. Sarah berkata, ’Ya Allah, jika aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, dan menjaga kehormatanku kecuali kepada suamiku maka janganlah Engkau membiarkan orang kafir menguasaiku.’ Maka nafasnya menyempit dan dia hampir tercekik sampai dia memukulkan kakinya ke bumi.
Abu Salamah berkata bahwa Abu Hurairah berkata, ”maka Sarah berkata, ’Ya Allah, jika orang ini mati, maka mereka menuduhku membunuhnya.’ Maka dia terbebas untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya. Kemudian dia berkata, ’Demi Allah, kalian tidak mengirimkan kepadaku kecuali setan. Pulangkan dia kepada Ibrahim dan berilah dia Ajar (maksudnya adalah Hajar, ibu Ismail). Sarah pun pulang kepada Ibrahim. Sarah berkata, ’Apakah kamu merasa bahwa Allah telah menghinakan orang kafir dan memberi seorang hamba sahaya.’
Dalam riwayat lain dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah berkata, “Ibrahim tidak berdusta kecuali tiga kali. Dua di antaranya karena Allah, yaitu ucapan Ibrahim, ‘Sesungguhnya aku sakit.’ (QS. Ash Shaffat: 89); dan ucapan Ibrahim, ’Sebenarnya patung besar itulah pelakunya.’ (QS. Al Anbiya: 63). Abu Hurairah melanjutkan, “Suatu hari, ketika Ibrahim dan Sarah berjalan keduanya melewati seorang penguasa lalim. Dikatakan kepadanya, ‘Di sini ada seorang laki-laki bersama seorang wanita cantik.” Maka Ibrahim ditanya tentangnya, ’Siapa wanita itu?’ Ibrahim menjawab, ’Saudara perempuanku.’ Lalu Ibrahim mendatangi Sarah dan berkata kepadanya, ’Wahai Sarah, di muka bumi ini tidak ada orang mukmin selain diriku dan dirimu. Orang itu bertanya kepadaku tentang dirimu, dan aku katakan kepadanya bahwa kamu adalah saudaraku. Maka, jangan mendustakanku.’ Lalu Ibrahim mengutus Sarah kepadanya. Ketika Sarah masuk kepadanya, dia menjulurkan tangannya hendak menjamahnya. Tapi dia tercekik dan berkata, ’Berdoalah kepada Allah untukku, aku tidak mencelakaimu.’ Lalu Sarah berdoa kepada Allah, maka dia pun terbebas. Kemudian ketika dia hendak menjamahnya untuk kedua kalinya, dia tercekik seperti semula atau lebih keras. Dia berkata, ’Berdoalah kepada Allah dan aku tidak mencelakaimu.’ Maka Sarah berdoa dan dia terbebas. Lalu dia memanggil pengawalnya dan berkata, ’Kalian tidak membawa manusia kepadaku. Kalian membawa setan kemari.’ Dia memberinya Hajar sebagai pelayannya. Sarah pulang kepada Ibrahim yang sedang shalat, maka Ibrahim memberi isyarat dengan tangannya, ’Bagaimana keadaanmu?’ Sarah menjawab, ’Allah menggagalkan makar orang kafir atau orang fajir (berupa siksaan) di lehernya dan memberiku Hajar.’  Abu Hurairah berkata, “Itulah ibu kalian, wahai Bani Ma’is Sama’ (air langit).”

Takhrij Hadits 

Riwayat pertama diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dalam Kitabul Buyu’, bab Membeli Hamba Sahaya Dari Kafir Harbi, Menghibahkannya dan Memerdekakannya, 4/410, no. 2217. Riwayat kedua di Kitabul Anbiya, bab Firman Allah, “Dan Allah Mengangkat Ibrahim sebagai Khalil.” (QS. An-Nisa: 125), no. 3358.
Bukhari juga meriwayatkannya di beberapa tempat dalam Shahih-nya di antaranya dalam Kitabul Ikrah, bab Jika Seorang Wanita Dipaksa Berzina, 12/321, no. 6950, dalam Kitabul Nikah, bab Mengangkat Hamba Sahaya dan Orang Yang Memerdekakan Hamba Sahaya Kemudian Menikahinya, 9/126, no. 5085, dalam Kitab Thalaq, keterangan tentang bab tanpa sanad, 9/387, dalam Kitab Hibah, bab Jika Dia Berkata, Aku Memberimu Pelayan Hamba Sahaya Ini, no. 2635. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabul Fadhail, bab Keutamaan-Keutamaan Ibrahim, 4/184, no. 2371, dengan Syarah Nawawi, 15/509.

Penjelasan Hadits 

Ibrahim pergi dari negerinya bersama istrinya setelah kaumnya melemparkannya ke dalam api dan Allah menyelamatkannya darinya. Ibrahim sampai di negeri  yang jauh. Di sana, dia tidak memiliki pendukung. Dalam kondisi seperti ini orang-orang dzalim lagi lalim berhasrat untuk menerkam orang seperti Ibrahim. Ibrahim menghadapi masalah ini manakala dia singgah di negeri dengan seorang raja yang sombong lagi serakah. Sang raja mendengar kedatangan Ibrahim di negerinya dengan seorang wanita yang tergolong paling cantik di dunia.
Salah satu kebiasaan mereka jika menginginkan seorang wanita adalah dengan menyiksa suaminya, jika wanita tersebut bersuami. Tetapi jika wanita itu lajang, maka mereka tidak akan mengganggu kerabatnya. Oleh karena itu, Ibrahim berkata kepada utusan raja tersebut ketika dia bertanya tentang Sarah, bahwa dia adalah saudara perempuannya, supaya selamat dari siksaannya. Ibrahim mengirim istrinya kepada laki-laki bejat itu seperti yang dia minta, karena ia percaya dengan penjagaan dan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah mewasiatkan kepadanya agar tidak membocorkan hubungan sebenarnya antara dia dengan istrinya. Ibrahim juga menjelaskan pandangannya dalam hal ini kepada  istrinya,  bahwa  dia  adalah  saudara perempuannya dalam agama, karena di muka bumi tidak terdapat orang yang beriman selain keduanya.
Walaupun maksud Ibrahim dari pernyataannya bahwa Sarah adalah saudara perempuannya, yakni saudara dalam iman dan Islam, dia tetap menolak untuk memberi syafaat pada hari Kiamat ketika orang-orang meminta kepadanya untuk bersedia menjadi perantara kepada Tuhan mereka agar Dia memutuskan urusan mereka. Ibrahim beralasan bahwa dirinya telah berdusta sebanyak tiga kali, yaitu ucapan, “Sesungguhnya aku sakit.” (QS. Ash Shaffat: 89), ketika  mereka mengajaknya berpartisipasi dalam hari raya mereka yang syirik dan batil. Yang kedua adalah ucapannya, “Sebenarnya  patung  yang  besar  itulah  yang melakukannya.” (QS. Al Anbiya: 63), ketika dia menghancurkan berhala dan membiarkan patung terbesar dengan mengalungkan kapak di lehernya, dan dia menyatakan bahwa patung besar inilah penghancur patung-patung kecil. Dan yang ketiga adalah ucapan Ibrahim dalam kisah ini kepada raja dzalim tersebut, bahwa Sarah adalah saudara perempuannya demi melindungi diri dari ancaman siksa raja lalim tersebut.
Ibrahim mengirim istrinya kepada raja dzalim itu, dan dia bersegera melakukan shalat untuk berdoa kepada Allah dan berlindung kepada-Nya. Allah telah menjaga Sarah, istri Ibrahim, untuk Ibrahim, sebagaimana Dia menjaga diri Sarah. Begitu Sarah tiba dan orang lalim itu hendak menyentuhnya, dia tercekik dengan keras sampai dia menjejakkan kakinya ke tanah setelah Sarah berdoa kepada Tuhannya memohon agar menghalangi makar dan kejahatan raja lalim tersebut. Akan tetapi, Sarah juga takut jika orang ini mati, maka mereka menuduhnya sebagai pembunuh sebagaimana ucapannya, “Ya Allah, jika orang ini mati maka mereka menuduhku membunuhnya.” Allah membebaskan laki-laki itu setelah dia meminta kepada Sarah agar berdoa untuknya dan dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan buruknya.
Manakala dia terbebas, dia mengingkari janjinya. Nafsunya telah menguasai dirinya, hingga dia kembali bangkit kepada Sarah. Dia tercekik lagi bahkan lebih keras dari yang pertama. Dia kembali mengiba kepada Sarah agar berdoa kepada Allah supaya dia terbebas dan berjanji tidak akan mengganggunya. Maka Sarah mengulangi ucapannya seperti di dalam doanya, “Ya Allah, jika dia mati maka aku pasti dituduh membunuhnya.”
Setelah dua atau tiga kali, dia memanggil pengawalnya dan menyuruh mereka memulangkan Sarah kepada Ibrahim dalam keadaan utuh dan beruntung. Dia mengetahui bahwa Sarah terjaga dan bahwa si lalim itu tidak mampu untuk menjamahnya. Sarah pulang kepada suaminya dengan diiringi oleh Hajar sebagai hadiah dari raja lalim tersebut. Hajar adalah ibu Ismail, Sarah menghadiahkannya kepada Ibrahim dan dia menikahinya.
Dalam sebuah hadits dalam Mustadrak Al-Hakim dan Musykilil Atsar At-Thahawi, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Jika kalian menaklukkan Mesir, maka hendaknya kalian saling menasihatkan agar berbuat baik kepada orang-orang Qibti, karena mereka mempunyai hubungan perjanjian dan rahim.”  [1]
Dalam Shahih Muslim tertulis, “Sesungguhnya kalian akan menaklukkan kota Mesir. Ia adalah bumi yang diberi nama Qirath. Jika kalian menaklukkannya, maka berbuat baiklah kepada penduduknya, karena mereka memiliki hak dan hubungan rahim” atau beliau bersabda, ”hak dan hubungan pernikahan.” [2]
Yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan hak perjanjian, hubungan rahim atau hubungan pernikahan yang dimiliki orang-orang Mesir adalah, karena Hajar, ibu Ismail, berasal dari kalangan mereka dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah salah seorang keturunannya.

Versi Taurat 

Kisah ini tertulis dalam Taurat dalam Ishah 12 Safar Takwin. Nashnya adalah, “Dan terjadilah kelaparan di bumi, maka Abram turun ke Mesir untuk mengasingkan diri di sana karena kelaparan di bumi sangat keras. Ketika dia hampir masuk Mesir, dia berkata kepada istrinya Saray, ‘Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu adalah seorang wanita cantik. Jika orang-orang Mesir melihatmu mereka mengatakan, ‘Inilah istri Abram’, lalu mereka membunuhku dan membiarkanmu. Katakanlah kepada mereka bahwa kamu adalah saudara perempuanku, agar aku mendapatkan kebaikan karenamu dan diriku tetap hidup demi dirimu.”
Maka, ketika Abram masuk Mesir dan orang-orang Mesir melihat istrinya sangat cantik. Para pembesar Fir’aun melihatnya dan menyanjungnya di hadapan Fir’aun. Maka wanita itu dibawa ke rumah Fir’aun, dan Fir’aun melakukan kebaikan kepada Abram karenanya. Abram diberi kambing, sapi, keledai, hamba sahaya laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. Lalu Allah menggoncang Fir’aun dan rumahnya dengan beberapa goncangan yang dahsyat disebabkan Saray, istri Abram. Fir’aun mengundang Abram dan berkata, “Apa yang kamu lakukan kepadaku? Mengapa kamu tidak berterus-terang bahwa wanita ini adalah istrimu? Mengapa kamu mengatakan dia adalah saudara perempuanmu? Karenanya aku ingin memperistrinya. Sekarang, ambil kembali istrimu ini dan pergilah.” Lalu Fir’aun memerintahkan orang-orangnya untuk mengantar Abram dan istrinya beserta seluruh harta yang dimilikinya.
Tertulis dalam Ishah 20 dalam Safar Takwin, bahwa raja lalim lainnya dari Palestina mengganggu Sarah, dan dia melepaskannya tanpa mampu menyentuhnya setelah Malaikat mengancamnya dalam mimpinya. Disebutkan pula bahwa Ibrahim memberitahu Malaikat kalau Sarah adalah saudara perempuan bapaknya.
Dalam Ishah 20 tertulis:
“Dan Ibrahim berpindah dari sana ke bumi selatan dan tinggal di antara Qadisy dan Syur. Dia mengasingkan diri di Jarrar. Ibrahim berkata tentang istrinya, Sarah, ‘Dia adalah saudara perempuanku’.” Maka raja Jarrar, yakni Abu Malik, mengambil Sarah. Lalu Allah datang kepada Abu Malik dalam mimpinya di malam hari. Dia berfirman kepadanya, “Kamu pasti mati disebabkan oleh wanita yang kamu ambil, karena dia itu bersuami.” Hanya saja waktu itu Abu Malik belum menyentuhnya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, engkau membunuh pemimpin yang baik. Bukankah dia sendiri yang berkata bahwa dia adalah saudara perempuannya dan wanita ini juga mengakui dirinya sebagai saudaranya? Dengan niat baik lagi mulia aku melakukan ini.”
Allah berfirman kepadanya dalam mimpi, “Aku juga mengetahui bahwa kamu melakukan ini dengan niat baik. Aku mencegahmu agar kamu tidak melakukan kesalahan kepadaku. Oleh karena itu, Aku tidak membiarkanmu menyentuhnya. Sekarang, pulangkan wanita ini kepada suaminya karena dia seorang Nabi. Dia berdoa untukmu, maka kamu tetap hidup. Jika kamu tidak mengembalikannya, maka ketahuilah bahwa kamu mati, begitu pula segala yang kamu miliki.”
Pagi harinya Abu Malik mengumpulkan seluruh hamba sahayanya dan menyampaikan ucapan itu kepada mereka. Orang-orang sangat ketakutan. Kemudian Abu Malik memanggil Ibrahim dan berkata kepadanya, “Apa yang kamu lakukan kepada kami? Apa salahku kepadamu sehingga kamu mendatangkan kepadaku dan kepada kerajaanku kesalahan besar ini? Perbuatan-perbuatan yang tidak semestinya dilakukan tetapi kamu melakukannya kepadaku.” Abu Malik berkata kepada Ibrahim, “Apa yang kamu lihat sehingga kamu melakukan hal ini?” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku berkata bahwa di tempat ini tidak ada rasa takut kepada Allah sama sekali, maka mereka membunuhku karena istriku. Sebenarnya dia juga saudara perempuanku anak perempuan bapakku. Hanya saja dia bukan anak perempuan ibuku, maka dia menjadi istriku. Dan ketika Allah memberikannya kepadaku dari rumah bapakku, aku berkata kepadanya, “Ini adalah kebaikanmu yang kamu lakukan untukku. Di setiap tempat yang kita datangi katakanlah bahwa aku adalah saudara laki-lakimu.”
Maka Abu Malik mengambil sapi, kambing, hamba sahaya laki-laki dan perempuan dan memberikannya kepada Ibrahim, sekaligus mengembalikan Sarah kepadanya. Abu Malik berkata, “Inilah negeriku di hadapanmu, tinggallah di manapun yang menurutmu baik.” Dia berkata kepada Sarah, “Aku telah memberi saudara laki-lakimu seribu dirham. Ini untukmu sebagai suatu pemberian dari segala arah apa yang ada di sisimu dan di sisi setiap orang lalu kamu berbuat adil.” Lalu Ibrahim shalat kepada Allah, maka Allah menyembuhkan Abu Malik, istrinya dan para  hamba sahayanya, dan mereka melahirkannya karena Tuhan telah menutup semua rahim di rumah Abu Malik disebabkan oleh Sarah, istri Ibrahim.

Komentar Menyangkut Versi Taurat 

Apa yang tertulis dalam Taurat sesuai dengan isyarat hadits, bahwa kisah ini terjadi di bumi Mesir, dan kami tidak tahu apakah kedatangan Ibrahim bersama Sarah ke sana karena kelaparan atau karena berdakwah kepada Allah.
Adapun ucapan Ibrahim kepada Sarah, “Kamu adalah wanita cantik…”, ini mirip dengan apa yang disinggung oleh hadits.
Hadits tidak menyinggung bahwa kisah ini terjadi pada masa Fir’aun. Fir’aun menguasai Mesir sepanjang rentang waktu tertentu, tidak pada semua masa. Dan apa yang disebutkan oleh Taurat bahwa Fir’aun memberikan kekayaan besar kepada Ibrahim berupa domba, sapi, keledai, hamba sahaya laki-laki dan wanita, keledai betina dan unta, ini tidaklah benar. Karena, setelah raja tersebut meminta Sarah dan Ibrahim mengirimnya, Ibrahim melakukan shalat. Ibrahim hanya mendapatkan Hajar sebagai pemberian raja kepada Sarah. Seandainya raja memberi Ibrahim kekayaan seperti disebutkan di atas, niscaya wahyu yang diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam akan menyinggungnya dalam hadits ini. Padahal, hadits hanya menyebutkan apa yang lebih sedikit dari itu, yaitu hadiah Hajar untuk Sarah.
Apa yang disebutkan dalam Taurat bahwa Allah menggoncang Fir’aun dan rumahnya dengan keras disebabkan oleh Sarah; bahwa Fir’aun mengundang Ibrahim untuk menyalahkannya karena pengakuan Ibrahim tentang Sarah sebagai saudara perempuannya; dan bahwa Fir’aun menginginkan Sarah untuk diperistri, semua itu tidaklah benar. Hadits yang Allah wahyukan kepada Rasul-Nya telah memberitahukan kepada kita bahwa apa yang terjadi pada raja lalim adalah, bahwa dia tercekik beberapa kali. Dan bahwa raja itu tidak mengundang  Ibrahim  setelahnya  dan  tidak menyalahkannya, akan tetapi dia memerintahkan untuk mengusir Ibrahim dan istrinya dari buminya dan tidak mengirim  seorang  pun  untuk  melepas  dan  mengantarkannya.
Allah lebih mengetahui kebenaran tentang kisah kedua. Kalaupun itu benar-benar terjadi, maka kisah tersebut mengandung kedustaan yang tidak samar. Ia adalah penyelewengan yang terjadi pada kitab ini. Orang-orang yang menyelewengkan kitab ini mengklaim melalui ucapan Ibrahim bahwa Sarah adalah saudara perempuannya dari bapaknya. Mustahil Ibrahim menikah dengan saudara perempuannya. Kedustaan ini dibantah banyak hadits yang menyatakan bahwa Ibrahim takut terhadap akibat dari tiga kedustaannya pada hari Kiamat, yang salah satunya adalah ucapannya kepada raja lalim tersebut bahwa Sarah adalah saudara perempuannya. Ini sangatlah jelas bahwa Sarah bukan saudara perempuan Ibrahim dari nasab. Akan tetapi, maksudnya adalah saudara perempuannya dalam Islam, sebagaimana hal itu dinyatakan secara nyata di dalam beberapa hadits.

Pelajaran-pelajaran dan Faidah-faidah Hadits 
  1. Terjaganya istri-istri para Nabi dan Rasul. Orang- orang dzalim lagi lalim tidak akan mampu mengobok- obok kehormatan mereka, seperti yang terjadi pada raja durhaka ini manakala dia hendak melakukan hal buruk kepada istri Ibrahim, maka Allah menjaga dan menyelamatkannya dari niat busuk tersebut.
  2. Hendaknya seorang mukmin berlindung kepada Allah Taala manakala menghadapi ujian dan kesulitan. Ibrahim berlindung kepada Allah melalui shalat ketika dia mengantarkan istrinya kepada raja lalim tersebut; dan Sarah sendiri juga berdoa dan bermunajat kepada Allah, maka Dia menjaganya.
  3. Kemampuan Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi untuk menjaga para Nabi dan para wali-Nya, serta menolong mereka dengan menangkis makar musuh- musuh.
  4. Kadangkala seorang muslim dipaksa untuk tunduk kepada angin ribut. Ibrahim berkata bahwa Sarah adalah saudara perempuannya. Ibrahim tidak mampu menolak untuk mengirimnya kepada raja durhaka itu. Sarah pergi kepadanya dan berada di satu tempat bersamanya tanpa orang ketiga, akan tetapi Allah menjaga dan melindunginya. Orang-orang yang menolak tunduk kepada angin ribut adalah orang- orang yang kurang memahami agama Allah. Seseorang tidak akan selalu mampu maju terus meniti jalannya dengan sempurna. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan para sahabat sesudahnya serta orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka membuat perjanjian damai dalam peperangan, dan kadangkala mereka rela dengan kesepakatan yang sangat berat sebelah. Sesuatu yang  di luar batas kemampuan harus diserahkan kepada Allah Azza wa Jalla.
  5. Boleh menerima hadiah dari orang dzalim bahkan kafir. Sarah menerima hadiah dari raja lalim itu ketika dia memberinya Hajar, dan Ibrahim menyetujui istrinya menerima hadiah itu.
  6. Wudhu telah disyariatkan pada umat sebelum kita. Ketika raja durhaka itu hendak menyentuh Sarah, Sarah berdiri untuk berwudhu dan shalat, dan sepertinya wudhunya berbeda dari wudhu kita, karena bagaimana caranya dia berwudhu manakala raja durhaka itu bangkit kepadanya. Bisa jadi wudhunya hanyalah dengan mengusap wajah dan tangan, atau mirip dengan tayamum seperti kita. Maksud shalat di sini adalah doa.
  7. Dalam syariat Ibrahim diperbolehkan bertanya dengan isyarat dalam shalat tentang sesuatu yang ingin diketahui. Ibrahim memberi isyarat kepada Sarah setelah dia kembali sementara dia shalat, yakni isyarat dengan tangannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengannya.
  8. Boleh berbincang tentang nikmat pemberian Allah kepada hamba-Nya. Sarah memberitahu suaminya dengan karunia Allah ketika menolak makar si kafir dan memberinya pelayan, Hajar kepadanya.
  9. Pernyataan Abu Hurairah bahwa Hajar adalah ibu dari orang-orang yang diajaknya berbicara dan dia meriwayatkan hadits kepada mereka.



[1] Silsilah Ahadis Shahihah, Nasiruddin Al Albani, 3/362
[2] Muslim, no. 2543


sumber: www.hasanalbanna.com